Di sebuah kota pesisir yang ramai, berdiri sebuah hotel tua bernama “Laut Senja.” Dari luar, bangunannya tampak biasa saja—catnya sedikit pudar, papan namanya berderit tertiup angin. Namun di dalam, hotel itu menyimpan banyak cerita yang tak semua orang tahu.
Raka, seorang lulusan baru jurusan perhotelan, memulai pekerjaan pertamanya di sana sebagai resepsionis. Ia awalnya kecewa—ia membayangkan akan bekerja di hotel mewah dengan lampu kristal dan tamu-tamu penting. Tapi kenyataannya, ia harus berjaga di meja kayu sederhana, melayani tamu yang datang silih berganti dengan berbagai latar belakang.
Hari pertama berjalan biasa, hingga seorang tamu misterius datang menjelang tengah malam. Pria itu mengenakan jas hitam rapi, meski cuaca panas. Ia tidak banyak bicara, hanya meminta kamar nomor 307—kamar yang, menurut catatan, sudah lama tidak dipakai.
“Maaf, Pak, kamar itu sedang tidak tersedia,” kata Raka sopan.
Pria itu tersenyum tipis. “Saya selalu menginap di kamar itu.”
Aneh, pikir Raka. Tapi entah kenapa, sistem komputer tiba-tiba menunjukkan kamar 307 sebagai “kosong.” Dengan ragu, Raka memberikan kunci.
Malam itu, Raka tidak bisa berhenti memikirkan tamu tersebut. Ia memeriksa buku tamu lama dan menemukan sesuatu yang membuatnya merinding—nama pria itu sudah tercatat berkali-kali… bahkan sejak puluhan tahun lalu.
Keesokan paginya, kamar 307 kembali kosong. Tidak ada tanda-tanda pernah ditempati. Tidak ada barang, tidak ada jejak.
Raka menceritakan hal itu kepada Bu Sari, manajer hotel yang sudah bekerja di sana selama 30 tahun. Bukannya terkejut, Bu Sari hanya tersenyum.

0 Komentar